Di pagi yang dingin aku mencoba mengeluarkan keringat dengan berlari-lari kecil. Sebenarnya olahraga yang murah tapi sangat menyehatkan ini jarang aku lakukan dengan alasan yang lumayan menyebalkan “malas”. Aku baru bersemangat melakukannya
biasanya setelah sembuh dari sakit.
Saat muncul gairah lari pagi, jalan favoritku adalah yang melewati persawahan. Apalagi sekarang akan musim panen, sejauh mata memandang terhampar “lautan emas” yang menakjubkan. Sungguh suatu pemandangan yang mendamaikan hati.
Dì samping keìndahan itu, ada satu fenomena yang menarik perhatianku yaitu rumput. Dari semua pematang sawah, dari yang baìk tanaman padinya sampai yang terjelek hampir dapat dipastikan ada rumput.
Sejenak aku berpikir. Kemudian muncul pemikiran dibenakku, andaikan kìta beri’tibar,mau memahami dan mengambil pelajaran dari fenomena padi dan rumput ini, mungkin kita akan menjadi manusia yang sabar,bijak, dan mau memaafkan kesalahan orang lain.
Ternyata tidak ada manusia yang sempurna ( selain nabi ). Sebaik apapun manusia pasti pernah berbuat kesalahan.
Tak terasa sudah jauh aku berlari pagi. Matahari sudah menampakkan diri. Aku putuskan untuk kembali, guna mempersiapkan diri mengabdi pada negeri mengajar anak-anak didikku yang sudah menanti.
Padi dan Rumput
Juli 16, 2008 oleh musafak
jadi rumput jadi objek penderita. saat tumbuh di antara batang padi ia disiangi. namun tak pernah dendam, melainkan berbakti menyuburkan padi, dg menjadi kompos.
salam kenal pakkkk filosofinya bagus bangetttt imoe.wordpress.com