Saya termasuk orang yang menyukai keindahan tanaman hias. Walaupun di rumah saya tidak ada tanaman hias karena tempat yang tidak memungkinkan.
Ketika sekolah tempat saya mengamalkan ilmu mengadakan program pengadaan tanaman hias, Saya membayangkan betapa sekolahku akan menjadi indah dan asri.
Dari berbagai taman hias yang mewarnai lingkungan sekolah, ada satu yang paling menarik perhatianku “bunga kertas” ( baugenville ). Bunga yang daun aslinya hanya berwarna satu, ternyata dengan sentuhan tangan yang kreatif dan inovatif bisa “malih rupa” menjadi bunga yang mempesona dengan daunnya beraneka warna, subhana Allah.
Tiba-tiba muncul pertanyaan “nakal” dibenakku. Bisakah tanaman bunga kertas itu dijadikan tanaman melati, biar berdaun indah dan wangi bunganya? Tentu pertanyaan tersebut tidak perlu kita jawab karena terlalu sulìt untuk mewujudkannya atau bahkan tidak mungkin.
Pikiran saya kemudian beralih kepada diri saya dan teman-teman yang notabene sebagai seorang pendidik dan juga sebagai orang tua. Saya yakin selama ini saya dan teman yang lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin (tentu saja dengan segala keterbatasan yang ada) untuk membimbing dan membina agar menjadi manusia yang sesuai harapan kita. Tapi kenyataannya yang terjadi kerap kali tidak sesuai sesuai seperti yang kita inginkan.
Jìka kita mau membaca tentang keberadaan “bunga kertas”, seharusnya kita sebagai pengajar atau orang tua tidak boleh putus asa dalam membimbing anak. Tak kalah penting untuk kita perlu renungkan bersama bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak agar anak menjadi seperti yang kita bayangkan, karena tugas kita hanya mengarahkan dan membimbing sedangkan anak mempunyai fitrah atau jati diri yang masing-masing.
Jika kamu menanam sebuah bibit, kamu mungkin bisa mengatur kapan ia akan tumbuh, kapan buahnya bisa kamu petik, dan dengan cara apa kamu akan memetiknya. Tapi satu hal yang tidak bìsa kamu atur, ia akan tumbuh menjadi dirinya sendiri. Kamu tidak bisa mengubahnya menjadi pohon lain, sekeras apapun kamu berusaha (nasehat Guru Oogwai kepada muridnya, master sifu dalam film kartun Kung Fu Panda).
Wah, sebuah tulisan yang bagus untuk direnungi.