Tidak terasa sudah sebulan lamanya kita telah melatih, menggembleng diri dan berjuang sekuat mungkin agar kita bisa menjadi pemenang dengan menundukkan hawa nafsu kita. Tak lama lagi kita akan ditinggalkan oleh bulan yang mulia, bulan yang penuh rahmat dan maghfirah, dan bulan yang istimewa karena hanya bulan Ramadanlah satu-satunya bulan yang disebut Allah dalam kitab suci Alqur’an. Hanya pada bulan penuh berkah inilah kita mempunyai kesempatan yang luas mensucikan jiwa raga kita guna melanjutkan perjalanan kita menuju Allah.
Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam,belukar yang lebat,bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu agar perjalanan tidak dilanjutkan.
Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila semangat tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang. Dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepas dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengan sang musafir bertemu kekasihnya, Allah Swt. (M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an:521)
Dalam pendakian suci ini, ada tiga kelompok:
Kelompok pertama adalah kelompoknya para pecundang yaitu orang-orang ketika melihat gunung yang tinggi, lereng yang curam, dan semak belukar yang berduri nyalinya hilang, bahkan mereka berlari menghindar dan tidak mau mengadakan pendakian.
Kelompok ini, bila Ramadan datang hatinya gundah, Ramadan dianggap bulan penuh beban, banyak larangan, dan mereka tidak mau berpuasa. Dan bila Ramadan akan berakhir hati mereka berbunga-bunga, seakan mereka terlepas dari penjara. Kelompok inilah merupakan kelompok orang-orang yang celaka. Na’udzu billah min dzalik.
Kelompok kedua adalah kelompoknya orang-orang yang rugi. Kelompok ini dihuni oleh mereka yang berhenti ditengah perjalanan. Mereka enggan menuju puncak pendakian, karena masih terlena oleh buaian nafsu dan takut menerjang rintangan yang ada didepan.
Ciri-ciri nyata dari orang-orang ini yaitu puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Mengapa dikatakan rugi? Karena tujuan puasa mereka hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tanpa adanya kemauan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan mereka dengan memperbanyak amal ibadah yang lainnya dan menjahui segala yang dapat meracuni pahala puasa. Bukankah Ramadan adalah bulan ibadah, bulan karunia, bulan istimewa yang penuh rahmat dan maghfirah?
Di samping itu, sikap orang-orang terhadap Ramadan yang akan lewat, biasa-biasa saja seolah tidak ada yang berkesan selama sebulan berpuasa.
Kelompok ketiga merupakan kelompoknya orang-orang yang pantang menyerah, menerjang segala rintangan yang ada menuju kemenangan yang hakiki, yaitu dapat merasakan nikmatnya iman dan indahnya dapat merasakan kehadiran-Nya. Bukankah esensi tujuan adalah takwa? Dan bukankah orang yang bertakwa adalah orang yang dapat merasakan kehadiran-Nya? Mereka bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya.
Mereka ini begitu tekun mengisi bulan suci ini dengan amalan yang bermakna dan bermanfaat. Terhadap perbuatan yang dapat menarik dosa sehingga kesucian puasa ternoda, mereka begitu sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah.
Ketika Ramadan datang mereka bahagia dan bila Ramadan harus berakhir mereka berduka.
Marilah sejenak di hari yang fitri ini, kita merefleksi diri kita pada cermin hati kita. Kita termasuk kelompok yang mana? Sudah pantaskah kita menyebut diri kita meraih kemenangan kembali ke fitrah?