Feeds:
Tulisan
Komentar

Di Wonosobo ditemukan seorang mayat perempuan yang sudah mengandung. Di mana usia kandungan perempuan itu diperkirakan antara 7-8 bulan. Ternyata mayat tersebut adalah seorang pelajar kelas dua di SMK Pius yang dibunuh pacarnya sendiri seorang pelajar kelas dua di SMA 2 Wonosobo. (Suara Merdeka. 4 Oktober 2008)

Itu hanya salah satu peristiwa tragis yang mengatas namakan cinta dan pergaulan bebas. Dan mungkin masih banyak lagi peristiwa yang serupa dengan peristiwa di atas.

Di tengah semaraknya gelombang demonstrasi terhadap RUU pornografi. Antara yang pro dan kontra sama-sama unjuk massa pendukung. Ada satu hal yang mungkin agak terabaikan oleh perhatian kita, yaitu prilaku pergaulan para generasi muda kita.

Suatu fakta yang sangat memprihatinkan, bahwa pergaulan para kawula muda sekarang cenderung kebarat-baratan, asal saling suka bebas berbuat apa saja. Sebagai akibatnya fitrah cinta yang suci telah ternoda, sakralitas pagar ayu seorang perempuan sudah tidak ada harganya, dan budaya kumpul kebo jadi suatu kebanggaan di antara para pemuda.

Itu semua terjadi, di antara faktor yang paling dominan, karena begitu mudahnya para remaja kita menemukan berbagai tontonan yang cenderung mengajarkan cara pergaulan remaja yang “bebas” sampai yang berbau porno, baik itu dari tv, film, sinetron, iklan, maupun internet.

Diakui atau tidak dari tontonan-tontonan itulah sebenarnya faktor yang sangat kuat dalam proses pembentukan kepribadian pergaulan yang bebas dan fulgar.

Apakah ini memang sudah seharusnya terjadi seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi? Dan kita memang tidak bisa berbuat-buat apa-apa untuk menanggulangi kehancuran moral para generasi muda kita?

Tidak terasa sudah sebulan lamanya kita telah melatih, menggembleng diri dan berjuang sekuat mungkin agar kita bisa menjadi pemenang dengan menundukkan hawa nafsu kita. Tak lama lagi kita akan ditinggalkan oleh bulan yang mulia, bulan yang penuh rahmat dan maghfirah, dan bulan yang istimewa karena hanya bulan Ramadanlah satu-satunya bulan yang disebut Allah dalam kitab suci Alqur’an. Hanya pada bulan penuh berkah inilah kita mempunyai kesempatan yang luas mensucikan jiwa raga kita guna melanjutkan perjalanan kita menuju Allah.

Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam,belukar yang lebat,bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu agar perjalanan tidak dilanjutkan.

Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi bila semangat tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang. Dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepas dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengan sang musafir bertemu kekasihnya, Allah Swt. (M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an:521)

Dalam pendakian suci ini, ada tiga kelompok:
Kelompok pertama adalah kelompoknya para pecundang yaitu orang-orang ketika melihat gunung yang tinggi, lereng yang curam, dan semak belukar yang berduri nyalinya hilang, bahkan mereka berlari menghindar dan tidak mau mengadakan pendakian.

Kelompok ini, bila Ramadan datang hatinya gundah, Ramadan dianggap bulan penuh beban, banyak larangan, dan mereka tidak mau berpuasa. Dan bila Ramadan akan berakhir hati mereka berbunga-bunga, seakan mereka terlepas dari penjara. Kelompok inilah merupakan kelompok orang-orang yang celaka. Na’udzu billah min dzalik.

Kelompok kedua adalah kelompoknya orang-orang yang rugi. Kelompok ini dihuni oleh mereka yang berhenti ditengah perjalanan. Mereka enggan menuju puncak pendakian, karena masih terlena oleh buaian nafsu dan takut menerjang rintangan yang ada didepan.

Ciri-ciri nyata dari orang-orang ini yaitu puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Mengapa dikatakan rugi? Karena tujuan puasa mereka hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tanpa adanya kemauan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan mereka dengan memperbanyak amal ibadah yang lainnya dan menjahui segala yang dapat meracuni pahala puasa. Bukankah Ramadan adalah bulan ibadah, bulan karunia, bulan istimewa yang penuh rahmat dan maghfirah?

Di samping itu, sikap orang-orang terhadap Ramadan yang akan lewat, biasa-biasa saja seolah tidak ada yang berkesan selama sebulan berpuasa.

Kelompok ketiga merupakan kelompoknya orang-orang yang pantang menyerah, menerjang segala rintangan yang ada menuju kemenangan yang hakiki, yaitu dapat merasakan nikmatnya iman dan indahnya dapat merasakan kehadiran-Nya. Bukankah esensi tujuan adalah takwa? Dan bukankah orang yang bertakwa adalah orang yang dapat merasakan kehadiran-Nya? Mereka bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya.

Mereka ini begitu tekun mengisi bulan suci ini dengan amalan yang bermakna dan bermanfaat. Terhadap perbuatan yang dapat menarik dosa sehingga kesucian puasa ternoda, mereka begitu sungguh-sungguh dan tidak kenal lelah.

Ketika Ramadan datang mereka bahagia dan bila Ramadan harus berakhir mereka berduka.

Marilah sejenak di hari yang fitri ini, kita merefleksi diri kita pada cermin hati kita. Kita termasuk kelompok yang mana? Sudah pantaskah kita menyebut diri kita meraih kemenangan kembali ke fitrah?

Insya Allah seminggu lagi bertepatan tanggal 1 Oktober 2008 kita memasuki fase yang sangat mendebarkan, yaitu Idul Fitri (1 Syawal 1429 H).
Kita patut berdebar-berdebar dan harap cemas, karena setelah sebulan penuh berpuasa apakah kita hanya mendapat lapar dan dahaga ataukah puasa kita selama bulan Ramadan benar-benar menjadi fasilitas dan prasarana bagi kita untuk menjadikan diri kita “Idul Fitri”.
Diri yang Idul Fitri adalah diri yang selama setahun ini dipenuhi dengan noda dan dosa menjadi suci kembali seperti semula. Subhanallah !

Keadaan diri yang fitri tersebut tidak cukup dicapai hanya dengan mengandalkan puasa kita. Mengapa? Karena masih banyaknya kekurangan selama kita menjalani puasa dan belum maksimalnya kita memanfaatkan segala fasilitas yang dianugerahkan Allah di bulan Ramadan.

Di samping dengan berpuasa Ramadan selama sebulan penuh, sudah barang tentu bagi yang tidak punya udzur syar’i. Setidaknya ada empat hal yang perlu kita perhatikan untuk menunjang kesempurnaan Idul Fitrinya diri kita.

Pertama, membayar zakat fitrah. Bukankah salah satu fungsi zakat fitrah adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa. Idealnya selama berpuasa kita menjaga anggota badan dari perbuatan dosa. Jika maksiat mengurangi kesempurnaan puasa, maka zakat fitrah menutupi kekurangan itu.(Sahal Mahfudh, Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh:147)

Kedua, pada malam hari raya Idul Fitri kita harus memperbanyak ibadah, berdzikir dan beristighfar. Mungkin poin kedua ini kita sering melaikannya karena terbuai dengan perasaan senang akan berlebaran dan terlepas dari kewajiban berpuasa. Bukankah kita hidup di dunia tidak bisa lepas dari dua hubungan, hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama manusia? Dan dalam menjalani kedua “hubungan” tersebut sudah pasti kita melakukan kesalahan dan dosa. Untuk itulah di malam Idul Fitri, di mana Allah membuka lebar-lebar pintu maghfirah dan rahmat, sangat rugi bila kita tidak memanfaatkan moment yang berharga tersebut.

Ketiga, paginya kita melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah, bila memungkinkan, di masjid atau di lapangan. Bila tidak dapat berjamaah kita laksanakan secara munfarid. Sangat rugi bila kita melewatkan kesempatan shalat Idul Fitri yang datangnya setahun hanya sekali.

Dan yang keempat, kita berlapang dada dan penuh keikhlasan untuk memberi maaf atas kesalahan saudara, kerabat, dan teman kita, dan meminta maaf atas kesalahan kita kepada bapak ibu, guru kita dan yang lainnya.

SEBELUMNYA SAYA MENGUCAPKAN KEPADA TEMAN-TEMAN,KHUSUSNYA SOBAT BLOG SAYA”SELAMAT MENJALANI IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN”

Hakekat Hidup

Hidup adalah perjalanan

Hidup adalah pilihan

Hidup adalah permainan

Hidup adalah tempat bertanam

Hidup adalah persinggahan

Matilah sebelum kamu mati

Karena, hakekat hidup adalah kematian.

Dalam sebuah hadis, yang sudah sering kita dengar, Nabi Muhammad SAW telah bersabda :”Apabila bulan Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.”

Hadis ini jika dipahami apa adanya, setidak-tidaknya akan menimbulkan dua hal yang rancu.

Pertama, jika surga terbuka neraka tertutup dimaknai secara teks book, berarti surga neraka di bulan Ramadhan ini sudah siap untuk ditempati. Padahal kita tahu, bahwa surga neraka merupakan tempat hunian atau terminal akhir dari perjalanan panjang manusia, yaitu setelah datangnya hari kiamat, tepatnya setelah yaumul hisab dan yaumul mizan.

Ke dua. Setan dibelenggu, jika dimaknai secara lugas, berarti setan pada bulan Ramadhan benar-benar tidak berdaya untuk menggoda manusia. Fakta yang ada, sering kita temukan di bulan suci ini, banyak orang Islam yang tanpa udzur syar’i meninggalkan puasa maupun shalatnya.

Dengan demikian, terhadap hadis di atas butuh penafsiran yang lebih lanjut dan mendalam.
Hadis tersebut tidak bisa dilepaskan dari hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan. Pada bulan yang penuh berkah ini, Allah benar-benar melimpahkan rahmat dan magfirah Nya yang tiada terkira. Malam lailatul qadar atau malam seribu bulan pun diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai bukti betapa Allah bersifat Rahman dan Rahim. Jika puasa kita betul-betul ihlas dan benar, maka bersiaplah kita untuk menjadi bayi yang baru dilahirkan. Bahkan pahala ibadah di bulan Ramadhan tidak ditentukan lipat gandanya, tapi Allah sendirilah yang akan membalasnya, karena begitu mulianya kebaikan ibadah di bulan suci Ramadhan. Inilah maksud pintu-pintu surga dibuka, karena banyaknya karunia Allah yang dicurahkan untuk kita dan hanya ada pada bulan suci Ramadhan.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Arba’in fi Ushuluddin, menerangkan bahwa puasa adalah penaklukan musuh Allah, karena setan adalah musuh. Musuh tidak akan menjadi kuat, kecuali dengan perantaraan keinginan nafsu syahwat. Sementara rasa lapar (puasa) dapat mematahkan semua keinginan nafsu yang dijadikan sarana bagi setan.

Nafsu syahwat yang terkendali, tentu akan membuat seseorang dapat menahan diri untuk melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa pintu neraka tertutup dan setan terbelenggu, bila kita mau berpuasa dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.

Wallahu A’lam!


Allah telah berfirman dalan QS. Al Baqarah ayat : 183 yang artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Bila kita cermati ayat tersebut betapa Allah begitu mesra memanggil orang-orang yang beriman agar berpuasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman dan mau mengerjakan puasa dengan penuh keikhlasan tentunya akan mendapat ridlo-Nya dan termasuk hamba yang dicintai Allah. Di samping itu, dalam Al qur’an ayat yang dimulai kalimat “ Yaa ayyuhal ladziina aamanu “ biasanya diikuti suatu perintah yang “berat”. Dalam hal ini perintah berpuasa, di mana salah satu hikmah disyariatkan puasa adalah untuk menguji keimanan kita.

Dengan kehadiran bulan yang mulia ini, apakah kita termasuk hamba yang beruntung ?  Keistimewaan Ramadhan yang begitu agung dapatkah kita meraihnya?

Ramadhan adalah bulan ibadah, di mana pahala segala amal akan dilipatgandakan, bahkan ditetapkan jenis ibadah wajib khusus bagi umat Islam  untuk dilakukan hanya pada bulan itu, yaitu puasa. Dengan segala “fasilitas” dan “motivasi” seperti itu terbuka kesempatan sangat lebar bagi setiap muslim untuk mensucikan dirinya sedemikian rupa hingga putih bersih “sebagaimana saat kelahirannya” . ( Sahal Mahfudz)

Bulan Ramadhan laksana samudra yang penuh dengan aneka warna ikan yang siap untuk dipanen. Cuaca saat itu adalah cuaca yang sangat tenang, sehingga memudahkan para nelayan untuk memanen sebanyak-banyaknya ikan yang ada dalam samudera Ramadhan tersebut. Masya Allah !

Nelayan merupakan gambaran dari kita yang berlomba-lomba memacu diri mencari ridlo, rahmat dan maghfirah dari Allah SWT. Sedangkan ikan merupakan wujud dari rahmat, hidayah dan maghfirah Allah SWT.

Kita harus optimis bisa memanfaatkan kesempatan yang begitu mulia dan yang hanya ada pada bulan suci ini. Tapi perlu diingat Ramadhan hanyalah nama dari suatu bulan dan hanya suatu “hal” yang bersifat pasif. Ia tidak akan mendatangi kita dengan sendirinya dan menjadikan kita manusia yang beruntung  dan mulia di hadapan Allah, tanpa adanya keaktifan dari kita untuk berusaha agar menjadi hamba yang dicintai Allah.

Diri kita tidak akan menjadi bersih dengan otomatis hanya karena kahadiran Bulan ramadhan ini. Tanpa ditunjang kemauan dari kita menggunakan dengan sebaik-baiknya ‘fasilitas” yang diberikan Allah pada bulan suci ini.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, yang dapat memanen pahala di bulan mulia ini, di mana pada akhirnya kita berhak mendapat title gelar “ muttaqin “.  Amin !

MARHABAN YA RAMADHAN !

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bukti nyata betapa Allah Maha Ghafur dan Rahim. Allah menyediakan selaksa macam ikan keberkahan dan maghfirah dalam samudra Ramadhan. Allah juga menumbuhkan beraneka macam buah pahala dì ladang Ramadhan.

Tahukah kita, siapakah orang yang paling rugì?

Jelas sekali, orang yang paling rugi adalah “nelayan” yang malas dan “petani” yang apatis.

Bagaimana dengan kita ?

Semoga di bulan yang suci ini kita menjadi “nelayan” dan “petani” yang beruntung. Sehingga kita termasuk hamba yang muttaqin. Amin !

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Sehat = Mati Rasa

Siapapun pasti ingin sehat. Berbagai kiat dan usaha akan kita lakukan agar kesehatan tetap terjaga. Dari yang murah sampai yang mahal. Dari jamu tradisional sampai obat yang modern. Dari olahraga yang gratis sampai yang berbiaya tinggi. semuanya dengan rela kita jalani demi satu obsesi, “sehat”.

Apakah sehat itu selamanya baik dan benar-benar sebuah anugerah?

Bayangkan, seandainya kita selalu sehat dan tidak sakit. Mungkin kita akan menjadi hamba yang sombong dan tidak pandai berterima kasih kepada Allah yang telah menganugerahkan kesehatan kepada kita. Bagaimana kita berterima kasih, lha wong kita tidak merasakan nikmatnya sehat, karena kita terbiasa sehat dan tidak merasakan sengsaranya sakit.

Kita akan menjadi egois dan tenggang rasa kita akan hilang, jika sehat terus. Bagaimana kita bisa merasakan penderitaan orang lain yang sedang tertimpa musibah sakit, lapar dan sebagainya, jika yang ada pada diri kita adalah selalu perasaan senang dan tidak pernah menderita.

Dengan sehat kita juga bisa sombong karena merasa seperti manusia super yang tahan terhadap penyakit. Seperti raja Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan gara-gara tidak pernah sakit.

Rumus sehat = mati rasa: mati rasa kehambaan, mati rasa sosial, dan mati rasa kepribadian, pasti akan terjadi pada diri kita, bila kita kurang mawas diri dalam menyikapi karunia sehat dan terlena dalam buain sehat.

Untuk itulah kita harus waspada bila sehat dan tidak boleh kecewa apalagi putus asa bila sakit. Di dalam sehat dan sakit terkandung dua hal yang berbeda tapi menyatu pada satu keadaan yaitu anugerah dan malapetaka, pahala dan dosa. Semua itu tergantung pada penyikapan kita terhadap dua “nikmat” tersebut.

Tinja yang Menertawakan kita

Siapapun hampir dapat dipastikan akan merasa risih bahkan mungkin jijik untuk membicarakannya. Jangankan melihat mendengar kata tinja saja mungkin kita sudah mual.

Pernahkah kita merenungkan sejenak. Dari manakah asalnya tinja? Tentu ini pertanyaan bodoh, karena semua orang akan dengan mudah bisa menjawabnya. Bahkan anak kecil pun bisa menjawabnya.

Tapi justru dengan pertanyaan bodoh itu, kita jadi tahu ternyata kita itu benar-benar bodoh dan lucu.
Pertanyaan konyol tersebut, kita akan sepakat menjawabnya “makanan”. Pagi, siang, dan malan kita memanjakan perut kita dengan berbagai menu masakan yang menggiurkan. Bahkan sebegitu menariknya, sampai-sampai hampir semua stasiun tv memberikan jam tayang tersendiri untuk acara masak memasak, hidang menghidang dan sejenisnya.

Untuk kepuasan perut tadi, kita harus membanting tulang, memeras keringat siang dan malam. Tak jarang pula kita sering mengabaìkan kewajiban kita kepada Yang menciptakan kita. Banyak pula di antara kita yang hanya karena sesuap nasi rela melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Dari yang mencuri sampai yang korupsì, dari yang judi sampai yang manipulasi, dari yang menjual sabu sampaì yang menjual tubuh, bahkan ada yang sampai membunuh.

Bukankah itu semua bukti nyata betapa kita sangat cinta harta dan juga makanan? Bukankah hasil dari makanan yang paling besar setelah diproses diperut adalah tinja? Dan bukankah bila kita mencintai sesuatu, sudah seharusnya pula mencintai yang dihasilkannya? Kita mencintai seorang wanita dan menikahinya, saya yakin, kita akan menyanyangi anak yang dilahirkannya. Kita sangat mencintai tanaman hias, tentu kita akan menyukai keanekaragaman daun atau pun buah yang dihasilkannya.
Kenyataannya, betapa kita sangat merendahkan dan menghina tinja. Betapa kita manusia egois, hedonis dan pandai pula bersandiwara.

Andaikan tabir yang menghalangi telinga kita dibuka oleh Allah, tentulah kita akan merasa malu mendengar cemoohan dan ketertawaannya tinja melihat sikap dan sepak terjang kita.
Sehingga wajar kita tidak sadar-sadar, karena telinga kita tertutup dinding yang tebal.

Maaf, jika tulisan ini mencemooh kita. Tapi saya yakin, tidak semua kita seperti itu.

Sudah menjadi suratan, bahwa ada 3 perkara yang sangat diinginkan oleh manusia, yaitu anak, harta benda, dan wanita.

Sebagai seorang wanita sudah barang tentu, dan memang sudah kudratnya, bila dapat tampil cantik dan menarik. Entah harus dengan make up, operasi, memakai baju dengan model terkini atau memang dari sananya sudah cantik. Tentu hal ini merupakan kebanggaan tersendiri.

Benarkah kecantikan itu benar-benar sebagai karunia?

Bila kita mau berpikir sejenak, kita akan menyadari bahwa sesuatu itu akan menjadi karunia bila dapat membimbing kita mencapai kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Seorang wanita yang merawat diri demi untuk menjaga harga diri dan untuk menjaga nikmat yang diberikan Allah, maka kecantikan yang tampak adalah kecantikan yang hakiki.

Seorang isteri yang tampil menarik di depan sang suami untuk membahagiakan hatinya dan meneduhkan mata kakandanya. Inilah wanita yang dikaruniai kecantikan sempurna. Inilah wanita yang menjadi perhiasan terindah di dunia.

Tapi wanita yang tampil cantik dan menawan agar bisa menarik perhatian. Saya kira Inilah awal dari malapetaka.

Andaikan ia berhasil menarik perhatian, pada akhìrnya ia akan terjebak pada sifat bangga diri. Bila seseorang sudah terhinggapì penyakit ini, maka imbasnya pada sisi psikologi. Orang yang bangga diri cenderung berkepribadian labil, mudah emosi dan tidak mau tersaingì. Bila tujuan menarik perhatian tadi tidak tercapai, maka ia akan menjadi kecewa dan sakit hati. Sungguh hanya menyiksa diri sendiri. Apakah kecantikan yang seperti ini sebagai karunia?
Seorang wanita yang dengan kecantikannya dan pesona yang dimilikinya hanya digunakan untuk mencari mangsa dan untuk menundukkan kaum laki-laki, dan ada yang sengaja menjual kecantikannya dan keindahan tubuhnya, entah hanya untuk memburu materi atau kepuasan diri. Menurut saya kecantikan yang seperti itu adalah suatu bencana.

Sekali lagi itu hanya menurut pemikiran saya. Entah para pembaca?

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »